ILMU: ANTARA CAHAYA HATI DAN RACUN JIWA

ILMU: ANTARA CAHAYA HATI DAN RACUN JIWA


Penulis: Abu Arslan

Ilmu adalah cahaya. Ia mampu menuntun manusia keluar dari kegelapan kebodohan menuju peradaban yang gemilang. Namun, cahaya ilmu bisa redup bahkan berubah menjadi racun bila tidak ditopang dengan niat yang lurus, adab yang benar, dan hati yang bersih. Sejarah para ulama besar Islam telah berulang kali memperingatkan kita bahwa ilmu bukan sekadar tumpukan informasi, bukan pula gelar panjang di depan nama, melainkan jalan untuk menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Imam Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam menuntut ilmu adalah riya dan kesombongan. Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya bisa berubah menjadi api yang membakar pemiliknya jika hanya dijadikan alat untuk memperdebatkan hal remeh atau sekadar mencari pengakuan. Dalam Ihya Ulumuddin, beliau menegaskan: ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan ilmu tanpa keikhlasan adalah bencana. Karena itu, prioritas utama seorang penuntut ilmu bukanlah menambah pengetahuan semata, melainkan membersihkan niat dan memperbaiki hati.

Senada dengan itu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (yang dijuluki “dokter para ulama”) menggambarkan fenomena “keracunan ilmu”. Dalam Miftah Dar as-Sa’adah, ia memperingatkan bahwa belajar terlalu keras tanpa arah yang benar bisa merusak otak dan jiwa. Gejalanya jelas: banyak tahu, tetapi enggan beramal; suka berdebat hanya untuk menang, bukan mencari kebenaran; serta merasa lebih mulia dari orang lain karena ilmu yang dimiliki. Obatnya bukan menambah bacaan tanpa henti, melainkan menguatkan ibadah, menumbuhkan zuhud, dan menanamkan kerendahan hati.

Az-Zarnuji, melalui karyanya Ta’lim al-Muta’allim, memberi penekanan pada adab dan pilihan guru. Menurutnya, guru yang tidak wara’ hanya akan melahirkan ilmu yang tidak berkah, bahkan bisa menghalangi rezeki. Kunci keberhasilan seorang penuntut ilmu terletak pada kesungguhan dalam menjaga adab, manajemen waktu, serta memilih prioritas ilmu. Mulai dari tidur lebih awal, bangun malam untuk tahajud, hingga mendahulukan ilmu halal-haram sebelum yang lain. Sebuah pola hidup yang disiplin, sederhana, namun sarat makna, sebuah “biohacking” ala santri.

Sementara itu, Ibnu Thufail mengajukan perspektif yang unik melalui kisah filosofisnya, Hayy bin Yaqzan. Lebih dari 900 tahun lalu, ia menulis tentang seorang bayi yang tumbuh sendirian di pulau terpencil, belajar langsung dari alam, tanpa guru, tanpa sekolah, tanpa buku. Dari pengamatan terhadap tumbuhan, hewan, hingga langit, Hayy tumbuh menjadi ilmuwan otodidak sekaligus filsuf yang akhirnya menemukan Tuhan melalui kontemplasi. Pesan Ibnu Thufail jelas: alam dan akal adalah guru pertama manusia, dan sistem pendidikan yang terlalu kaku justru bisa membatasi naluri belajar alami.

Empat perspektif ini memberi kita satu benang merah: ilmu sejati tidak hanya tentang apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana dan untuk apa. Ilmu bisa menjadi cahaya yang menuntun atau racun yang menyesatkan. Semua bergantung pada niat, adab, guru, dan lingkungan belajar. Dalam dunia modern yang penuh dengan gelar, sertifikat, dan obsesi terhadap “akreditasi”, kita perlu kembali merenungkan pesan para ulama ini. Apakah ilmu kita menambah kedekatan dengan Allah, atau justru menambah jarak?

Ilmu yang bermanfaat lahir dari hati yang ikhlas, dibimbing guru yang saleh, dijaga dengan adab, dan diamalkan dalam kehidupan nyata. Tanpa itu semua, ilmu hanya akan menambah kesombongan dan menutup jalan menuju kebenaran. Maka, marilah kita kembali pada hakikat ilmu: ia adalah sarana tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, agar manusia benar-benar layak menyandang gelar sebagai khalifah Allah di bumi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel