-->
KRISIS MENTAL ANAK MUDA: ANTARA TEKANAN HIDUP DAN HILANGNYA PEGANGAN

KRISIS MENTAL ANAK MUDA: ANTARA TEKANAN HIDUP DAN HILANGNYA PEGANGAN


Penulis: Shabrina Noor Maharani P. | Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang

Belakangan ini, masyarakat dikejutkan oleh kabar duka mengenai maraknya anak muda yang nekat mengakhiri hidupnya. Salah satunya adalah kasus percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR yang melompat dari lantai 6 gedung kampus. Selain itu, ada pula insiden penemuan jenazah pria berinisial FS di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat.

Berita mengkhawatirkan ini sejalan dengan data dari saluran siaga pencegahan bunuh diri Healing119.id yang mencatat bahwa sebagian besar pengguna layanannya didominasi oleh kelompok usia produktif, yakni 21–30 tahun. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental saat ini benar-benar nyata dan tengah menghantam generasi muda secara masif.

Fakta di atas merupakan dampak dari sistem kapitalisme-sekuler yang mencabut akidah dari kehidupan umat. Akibatnya, generasi muda saat ini tidak jarang kehilangan arah dan pegangannya saat menghadapi tekanan hidup yang berat. Karena ketiadaan benteng keimanan yang kokoh, tekanan dan kesulitan hidup terasa makin menghimpit hingga akhirnya berujung pada keputusasaan.


Buah Sistem Sekuler-Kapitalistis dan Budaya Toksis

Maraknya krisis kesehatan mental ini juga merupakan buah dari penerapan sistem sekuler-kapitalistis yang dibungkus oleh paham liberalisme. Dalam sistem ini, kebebasan individu dijunjung setinggi-tingginya, sehingga kerap membuat masyarakat enggan diberi nasihat atau teguran atas nama hak asasi individu. Akibatnya, interaksi sosial menjadi dangkal dan seseorang sering kali merasa berjuang sendirian karena melemahnya kepedulian di tengah masyarakat.

Kondisi ini diperparah oleh pengaruh budaya toxic positivity yang menuntut setiap individu untuk selalu terlihat sukses, produktif, dan kuat tanpa dibekali landasan spiritual yang kokoh. Hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis finis; standar keberhasilan hanya diukur dari seberapa pencapaian materi dan popularitas seseorang sesuai dengan selera orang lain.

Akibatnya, seseorang sangat rentan merasa impiannya runtuh total ketika target tersebut gagal dicapai. Tanpa adanya iman dan tempat bersandar, sistem sekuler-kapitalistis ini secara tidak langsung memang melahirkan individu-individu yang rapuh secara mental. Seseorang dipaksa berkompetisi di tengah lingkungan yang individualistis, tetapi di saat yang sama dibiarkan berjuang sendirian tanpa arah tujuan hidup yang hakiki.


Solusi Sistemis dan Komprehensif dalam Islam

Jika ditanya bagaimana cara keluar dari krisis sistemis ini, solusi yang mendasar tentu tidak cukup hanya dengan wejangan pasif seperti kata "sabar" atau sekadar nasihat lisan belaka. Umat membutuhkan sebuah sistem yang benar-benar mampu melindungi kesehatan mental dan jiwa masyarakat langsung dari akarnya, dan Islam telah menyediakan jawabannya secara utuh:
  • Membangun Akidah sebagai Benteng Utama Jiwa: Islam menanamkan akidah sejak dini. Keyakinan bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari ujian Allah Swt. serta adanya larangan keras terhadap perbuatan bunuh diri memberikan perlindungan mental yang sangat kuat. Seorang muslim memahami bahwa hidup memiliki tujuan mulia, sehingga mampu berpikir lebih matang dan tidak mudah menyerah saat ditimpa ujian.
  • Menguatkan Ikatan Sosial Berbasis Ukhuwah: Islam mengikat keluarga dan masyarakat dengan tali persaudaraan keagamaan (ukhuwah islamiyah). Melalui kepedulian sosial yang hidup, tetangga, keluarga, dan lingkungan sekitar akan peka ketika ada individu yang sedang mengalami kesulitan. Dengan demikian, tidak ada cerita seseorang merasa terisolasi atau kesepian di tengah keramaian.
  • Penerapan Sistem Islam oleh Negara: Hal yang paling krusial adalah hadirnya negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Sistem pendidikan dalam Islam dibangun berbasis akidah untuk membentuk kepribadian yang kokoh, bukan murni mengejar materi. Di samping itu, sistem ekonomi Islam yang adil akan menjamin kesejahteraan tiap warga negara, sehingga terwujud lingkungan sosial yang saling peduli dan saling menguatkan.


Kesimpulan

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan generasi muda dari gelombang keputusasaan ini, kita harus kembali kepada sistem kehidupan yang memanusiakan manusia secara utuh. Sebuah tatanan di mana mental dan jiwa dijaga melalui keimanan, serta jalan hidupnya dituntun oleh kepedulian nyata masyarakat dan sistem negara yang adil di bawah naungan syariat Islam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel