-->
KESEPIAN DI TENGAH KERAMAIAN: POTRET KELAM GENERASI SEKULER

KESEPIAN DI TENGAH KERAMAIAN: POTRET KELAM GENERASI SEKULER


Penulis: Alia Salsa Rainna | Aktivis Muslimah

Persoalan kesehatan mental dan krisis kesepian di kalangan generasi muda kembali menjadi sorotan publik. Di tengah era kebebasan informasi dan konektivitas digital yang kian masif, tidak sedikit anak muda justru mengalami keterasingan, tekanan hidup yang hebat, hingga merasa berjuang sendirian tanpa penopang.

Rentetan peristiwa tragis belakangan ini menjadi alarm keras. Di Universitas Brawijaya, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran diduga melakukan percobaan bunuh diri di lingkungan kampus. Peristiwa serupa juga terjadi di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, ketika seorang pemuda ditemukan meninggal dunia setelah sempat mengunggah pesan perpisahan di akun media sosialnya.

Fenomena ini sejatinya merupakan puncak gunung es dari krisis kesehatan mental nasional. Berdasarkan data layanan Healing119 milik Kementerian Kesehatan periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, tercatat sebanyak 3.036 orang menyampaikan niat untuk mengakhiri hidup.

Dari total angka tersebut, kelompok usia produktif 21–30 tahun mendominasi hingga 54,08 persen, disusul kelompok usia remaja 11–20 tahun yang mencapai 33,04 persen. Data faktual ini menegaskan bahwa keputusasaan dan tekanan psikologis tingkat tinggi tengah membayangi fase tumbuh kembang generasi muda Indonesia.


Sekularisme dan Keterasingan Jiwa

Fenomena ini tidak cukup dipandang sebatas masalah personal atau ketahanan mental individu semata. Ketika keputusasaan dan kecemasan meluas secara sistemik di kalangan remaja dan pemuda, kita wajib mencermati bagaimana tatanan kehidupan sosial dibentuk.

Dalam cengkeraman sekularisme (paham yang memisahkan agama dari tata kelola kehidupan) persoalan manusia cenderung disederhanakan hanya pada aspek materi, pencapaian fisik, dan psikologi sekuler. Hubungan spiritual manusia dengan Allah SWT serta hakikat tujuan hidup kerap diabaikan dari pijakan berpikir sehari-hari.

Padahal, jiwa manusia tidak akan cukup dipuaskan oleh kesenangan materi dan status sosial belaka. Manusia membutuhkan ketenangan hakiki yang lahir dari kekuatan keimanan serta keyakinan bahwa setiap ujian hidup mengandung hikmah dan berada dalam pengawasan-Nya.

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 28).


Kapitalisme dan Pudarnya Naluri Kepedulian

Di samping sekularisme, peneratan sistem kapitalisme melahirkan iklim kehidupan yang serba individualistik dan kompetitif. Persaingan ekonomi yang ketat, tingginya beban pendidikan dan pekerjaan, serta mengikisnya kehangatan sosial membuat banyak individu merasa terisolasi dalam menyelesaikan krisis hidupnya.

Menyelesaikan masalah kesehatan mental tidak cukup dengan terus-menerus menuntut individu untuk "lebih kuat" atau "lebih tangguh". Diperlukan lingkungan sosial dan negara yang suportif, hadir mendengarkan, serta menyediakan perlindungan yang nyata bagi setiap warga negara.


Solusi Islam: Pendekatan Holistik dan Peran Negara

Islam memandang manusia sebagai makhluk utuh yang memiliki kebutuhan jasmani (hajats ujdaniyyah) sekaligus kebutuhan ruhani. Oleh karena itu, Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual antara hamba dan Pencipta, tetapi juga mengatur interaksi sosial dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam tatanan Islam, negara mengemban peran sebagai pengurus rakyat (ra'in) dan pelindung (junnah). Negara tidak boleh bersifat pasif atau sekadar hadir ketika krisis sudah terjadi, melainkan wajib membangun ekosistem yang menjamin kesejahteraan lahir dan batin masyarakat.

Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar publik secara cuma-cuma dan berkualitas, seperti pendidikan berlandaskan akidah, layanan kesehatan mental dan fisik, keamanan, serta lapangan kerja yang layak. Dengan demikian, beban hidup tidak ditumpukkan pada pundak individu secara mandiri.

Selama tatanan kehidupan masyarakat masih didominasi paradigma sekuler-kapitalistik, krisis mental dan kesepian generasi akan terus berulang dalam pelbagai bentuk. Islam hadir menawarkan solusi mendasar dengan menjadikan akidah sebagai landasan berpikir, masyarakat yang saling peduli, serta negara yang bertindak penuh tanggung jawab melayani umat.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel