KESEPIAN DI TENGAH KERAMAIAN: POTRET KELAM GENERASI SEKULER DAN SOLUSI ISLAM
Sabtu, 19 September 2026
Edit

Penulis: Putri Febrina Hasibuan | Aktivis Muslimah dan Praktisi Kesehatan
Belakangan ini, masyarakat kerap dikejutkan oleh berita duka mengenai anak-anak muda yang nekat mengakhiri hidupnya. Kasus tragis yang menimpa mahasiswa di Universitas Brawijaya hingga insiden yang melibatkan seorang pria di kawasan GBK Jakarta Pusat baru-baru ini sangat memprihatinkan. Rentetan kejadian ini seolah menjadi tamparan keras bagi publik: mengapa generasi muda saat ini begitu rentan merasa kesepian, hampa, dan kehilangan arah hidup?
Data dari layanan pencegahan bunuh diri Healing119.id menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental saat ini memang paling dominan menimpa kelompok usia produktif, yaitu 21–30 tahun. Fenomena ini memperlihatkan betapa banyaknya anak muda yang merasa terisolasi dan kehilangan pegangan hidup di tengah riuhnya keramaian dunia modern.
Maraknya krisis kesehatan mental dan kasus bunuh diri di kalangan pemuda tentu tidak boleh dianggap sepele. Fenomena ini seharusnya membuka mata kita bahwa ada masalah struktural yang sangat besar yang sedang dihadapi oleh generasi saat ini.
Akar Masalah: Corak Kehidupan Sekuler dan Kapitalistik
Jika diamati secara mendalam, fenomena krisis mental ini tidak lahir begitu saja. Akar masalahnya bersumber dari corak kehidupan sekuler dan kapitalistik yang kian mendominasi tatanan masyarakat modern.
Sekularisme telah memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika seseorang dihadapkan pada tekanan hidup, kegagalan, atau kekecewaan, ia kehilangan benteng spiritual untuk bertahan.
Di saat yang sama, tatanan kapitalisme membentuk gaya hidup yang sangat individualistis dan menakar keberhasilan manusia secara serbamaterialistis. Masyarakat dituntut berlari sendiri-sendiri demi capaian pribadi, sehingga hubungan sosial menjadi dangkal, asosial, dan berjarak. Akibatnya, banyak orang merasa terasing dan menanggung beban mental seorang diri, sekalipun secara materi mereka terlihat berkecukupan.
Rekonstruksi Kehidupan Berbasis Islam
Untuk mengurai krisis sistemis ini, Islam menawarkan rekonstruksi kehidupan yang kokoh, solutif, dan menyeluruh:
- Membangun Akidah sebagai Benteng Jiwa: Islam menanamkan akidah sejak dini. Keyakinan bahwa hidup adalah ajang ujian dari Allah Swt. dan bahwa setiap kesulitan selalu disertai dengan kemudahan memberikan ketahanan mental (resilience) yang luar biasa. Dalam Islam, berputus asa hingga mengakhiri hidup dilarang keras karena seorang muslim meyakini bahwa Allah Swt. adalah sebaik-baik tempat bersandar.
- Menguatkan Ikatan Sosial dan Kekeluargaan: Islam membangun ikatan sosial berbasis akidah (ukhuwah islamiyah). Masyarakat muslim dituntut untuk saling peduli, menasihati, dan membantu sesama. Dengan kepedulian sosial yang hidup, tidak boleh ada satu pun individu yang dibiarkan menanggung beban sendirian tanpa dorongan moral maupun bantuan nyata dari lingkungan sekitarnya.
- Penerapan Sistem Islam secara Kaffah: Peran tatanan kehidupan yang menerapkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh (kaffah) sangat krusial. Sistem pendidikan berbasis akidah dan sistem ekonomi yang berkeadilan akan melahirkan generasi yang berkepribadian kokoh (syakhshiyyah islamiyyah), tidak mudah rapuh oleh tekanan zaman, serta mampu menjamin kesejahteraan dan kedamaian jiwa bagi seluruh anggota masyarakat.
Kesimpulan
Krisis kesehatan mental dan kesepian di tengah keramaian adalah dampak nyata dari dianutnya paham sekularisme dan kapitalisme. Mengobati fenomena ini tidak cukup sekadar dengan pendekatan penanganan sementara di permukaan.
Umat dan generasi muda membutuhkan pengembalian fungsi agama ke dalam seluruh ruang kehidupan. Hanya dengan kembali pada aturan Allah Swt. secara kaffah, ketenangan jiwa, ketahanan mental, serta tatanan masyarakat yang saling peduli dan menguatkan dapat terwujud secara nyata.
Wallahu a’lam bish-shawab.