-->
GEN Z DAN ARAH PANDANG KEHIDUPAN YANG ABU-ABU

GEN Z DAN ARAH PANDANG KEHIDUPAN YANG ABU-ABU


Penulis: Rastias

Generasi Z (Gen Z) kini mulai mendominasi berbagai aspek kehidupan. Mereka tumbuh pada era teknologi digital yang berkembang secara pesat, sehingga sejak dini telah memiliki kedekatan yang tinggi dengan berbagai perangkat dan platform digital. Oleh karena itu, Gen Z dikenal lebih melek teknologi dan kreatif dalam memanfaatkan berbagai inovasi yang terus berkembang. Selain itu, mereka juga memiliki akses yang luas terhadap pendidikan, informasi, dan berbagai peluang baru.

Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, Gen Z juga menghadapi tekanan ekonomi dan sosial yang tidak ringan. Mereka dihadapkan pada biaya hidup yang makin tinggi dan ketidakpastian masa depan. Di saat yang sama, mereka berada dalam arus budaya konsumtif dan hedonisme yang terus diproduksi oleh media sosial. Oleh sebab itu, persoalan yang dihadapi bukan hanya sekadar bagaimana memenuhi kebutuhan hidup harian, melainkan bagaimana menemukan tujuan hidup yang hakiki.


Tekanan Ekonomi dan Kecemasan Masa Depan

Dikutip dari Kompas.com (19/2/2026), pada tahun 2030, generasi millennial dan Generasi Z diproyeksikan akan mendominasi hingga 74 persen dari total tenaga kerja global. Namun, kondisi ekonomi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan gambaran yang memprihatinkan.

Berdasarkan hasil Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025, biaya hidup (cost of living) menjadi kekhawatiran utama bagi kedua generasi ini selama empat tahun berturut-turut. Pada tahun 2025, sebanyak 39 persen Gen Z dan 42 persen millennial menempatkan biaya hidup sebagai isu yang paling mengkhawatirkan, bahkan melampaui isu lingkungan, kesehatan mental, hingga stabilitas politik.

Maka tidak heran apabila sebanyak 48 persen Gen Z dan 46 persen millennial menyatakan mereka belum merasa aman secara finansial. Angka ini meningkat signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang masing-masing tercatat sekitar 30 persen dan 32 persen.

Data tersebut menunjukkan adanya kegelisahan nyata di kalangan generasi muda terhadap masa depan. Lonjakan biaya hidup yang makin tinggi, ketidakpastian lapangan kerja, dan tekanan untuk mempertahankan gaya hidup menjadi beban emosional tersendiri.


Konsumsi Menjadi Pelarian

Di tengah tekanan ekonomi dan sosial yang berat, fenomena self-reward dan healing justru menjadi tren di kalangan muda. Membeli barang tertentu, berburu kuliner viral, bepergian, menonton konser, hingga mengadopsi gaya hidup populer di media sosial bukan lagi dipandang sebatas bentuk penghargaan diri, melainkan telah bergeser menjadi "kebutuhan emosional". Persoalan muncul ketika aktivitas konsumtif tersebut dijadikan sebagai indikator standar kebahagiaan.

Ditambah lagi, media sosial terus mencekoki generasi muda dengan tren populer yang memicu kecemasan tertinggal (Fear of Missing Out/FOMO) dan budaya belanja impulsif. Setiap hari Gen Z disuguhi konten seputar fesyen, liburan, skincare, kafe estetis, hingga gaya hidup para influencer dan figur publik. Paparan konten tersebut memicu rasa minder, cemas tertinggal, merasa gagal, hingga merasa tidak berharga bagi mereka yang tidak mampu mengikuti tren.


Krisis Tujuan Hidup

Sesungguhnya, terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar ketimbang masalah konsumerisme, yakni krisis tujuan hidup. Generasi muda hari ini bagaikan berjalan tanpa arah yang jelas, hanya mengikuti ke mana arus membawa mereka. Manusia yang tidak memiliki jawaban kokoh atas pertanyaan eksistensial "Untuk apa aku hidup?" akan cenderung mengukur kebahagiaan dari hal-hal yang sifatnya sementara: materi yang melimpah, pencapaian karir, atau kemampuan membeli barang. Padahal, seluruh muara kenikmatan materiil tersebut tidak memberikan ketenangan sejati.


Buah Rusak Sistem Sekularisme-Kapitalisme

Persoalan Gen Z tidak cukup dijelaskan dengan dalih bahwa mereka kurang pandai mengelola keuangan pribadi. Tidak adil jika seluruh beban kesalahan ditimpakan kepada individu semata. Di balik persoalan tersebut, terdapat akar masalah yang bersifat sistemik.

Sistem sekularisme-kapitalisme yang diterapkan hari ini mengukur keberhasilan dan kebahagiaan sebatas pencapaian materi. Akibatnya, Gen Z ditekan setiap hari untuk mengejar tolok ukur duniawi, mulai dari nilai akademik, jabatan kerja, hingga pencapaian media sosial demi meraih validasi publik. Akhirnya, pemenuhan urusan dunia diprioritaskan, sementara urusan akhirat dikesampingkan.

Padahal, makin jauh manusia dari aturan Sang Pencipta, makin jauh pula mereka dari ketenangan dan kebahagiaan sejati. Sistem ini menciptakan struktur ekonomi yang timpang: biaya hidup, bahan pangan, pendidikan, dan kesehatan terus meroket, sementara kenaikan upah riil cenderung stagnan. Negara seolah berlepas tangan dari kewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya, memaksa Gen Z berjuang sendirian di pasar bebas sementara kekayaan sumber daya alam justru dikuasai oleh korporasi swasta dan asing.


Islam sebagai Kerangka Solusi Komprehensif

Dalam perspektif Islam, persoalan generasi diselesaikan secara menyeluruh yang melibatkan peran individu, keluarga, masyarakat, hingga tata kelola negara:

1. Jaminan Kesejahteraan oleh Negara
Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar seluruh rakyatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Imam (pemimpin/penguasa) adalah raa'in (pengurus) rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sumber daya alam yang terkategori sebagai kepemilikan umum dikelola langsung oleh negara dan seluruh hasilnya dikembalikan untuk kemakmuran rakyat. Negara juga wajib menyediakan lapangan kerja yang luas dan layak sehingga tidak ada generasi muda yang terlunta-lunta tanpa kepastian hidup.

2. Sistem Pendidikan Berbasis Akidah
Pendidikan dalam Islam tidak sekadar mencetak pencapaian akademik formal, melainkan membentuk kepribadian Islam (syaksiyah Islamiyyah), yakni pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah serta pemahaman hukum syariat secara menyeluruh, termasuk pembinaan tata pergaulan publik yang menjaga kehormatan manusia.

3. Kontrol Sosial Masyarakat dan Keluarga
Generasi muda dibesarkan dalam lingkungan sosial yang bernuansa keimanan. Masyarakat menjalankan fungsi kontrol sosial melalui amar ma'ruf nahi munkar, sehingga generasi muda merasa didampingi dan terlindungi. Di saat yang sama, keluarga bertindak sebagai benteng utama dalam mengarahkan dan membimbing tumbuh kembang anak.

4. Proteksi Media Publik
Media massa difungsikan sebagai sarana pendidikan dan penyebaran dakwah. Negara menutup rapat pintu propaganda gaya hidup destruktif (seperti hedonisme, sekularisme, dan liberalisme) demi menjaga ketahanan moral generasi.


Kesimpulan

Hanya sistem Islam yang mampu membentuk generasi yang memahami paradigma hidup yang benar: bahwa hakikat keberadaan manusia di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan pemahaman tujuan hidup yang jernih, Generasi Z tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus tren zaman.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel