PALESTINA MASIH MENDERITA, UMAT BUTUH KEPEMIMPINAN GLOBAL PENUH RAHMAT

PALESTINA MASIH MENDERITA, UMAT BUTUH KEPEMIMPINAN GLOBAL PENUH RAHMAT


Penulis: Wida Nusaibah | Pemerhati Masalah Global

Perhatian umat tertuju pada Venezuela dan Iran yang sedang memanas. Namun, umat tidak boleh lupa, apalagi teralihkan, dari kondisi Palestina yang masih terus menderita akibat penjajahan Israel laknatullah. Tak hanya memberikan serangan berkelanjutan, Israel bahkan melarang organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina. Sungguh, sudah lebih dari keterlaluan.

Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengutuk keputusan sewenang-wenang Israel untuk membatalkan izin kerja 37 organisasi kemanusiaan internasional yang beroperasi di wilayah Palestina yang diduduki, khususnya di Jalur Gaza.

Kemlu menolak alasan Israel atas pemberlakuan larangan tersebut. Ia menekankan bahwa organisasi-organisasi ini memberikan dukungan kemanusiaan, layanan kesehatan, dan lingkungan yang penting bagi warga Palestina, terutama di Gaza, di tengah agresi Israel, praktik taktik kelaparan, dan serangan terhadap kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat. (Antaranews.com, 31/12/25)


Keberadaan Israel adalah Sumber Penderitaan Palestina

Berbagai serangan, pembantaian, dan pendudukan wilayah Palestina oleh entitas Yahudi Israel masih terus terjadi. Hal itu akan terus berlanjut selama Israel masih eksis, baik diakui maupun tidak oleh dunia internasional. Berbagai kecaman dan kutukan dari dunia nyatanya tak menyurutkan langkah penjajahan Israel tersebut.

Israel akan terus mewujudkan cita-cita mendirikan Israel Raya dan menguasai politik-ekonomi dunia dengan segala cara. Dukungan negara adidaya Amerika Serikat dan diamnya negeri-negeri Muslim semakin membuat Israel jumawa. Mereka yakin tidak akan ada kekuatan yang mampu menghentikan penjajahannya di Palestina.

Tidak adanya upaya pengusiran Israel dari Palestina oleh satu pun negara-negara kaum Muslimin sama saja dengan membiarkan keberadaan Israel tetap eksis dan semakin kokoh. Hal itu sama artinya membiarkan warga Palestina tetap dalam penderitaan selamanya dan sendiri dalam perjuangan mereka mempertahankan tanah kaum Muslimin yang diberkati.

Berbagai upaya dunia dalam menawarkan penyelesaian melalui PBB yang dipimpin oleh AS hanyalah memberikan solusi semu yang hanya ingin menunjukkan bahwa mereka seolah tidak diam terhadap ketidakadilan Palestina. Padahal, solusi yang mereka tawarkan, seperti solusi dua negara, justru menempatkan Palestina ke dalam jurang penderitaan yang kian dalam. Sebab, sama saja mereka mengakui dan melegalisasi pencaplokan wilayah Palestina oleh entitas Yahudi Israel.

Mengutuk dan memohon belas kasihan Israel agar membuka jalan bantuan kemanusiaan nyatanya tak cukup untuk membebaskan warga Palestina dari penderitaan. Kalaupun bantuan kemanusiaan dapat masuk dan diterima, itu hanya meringankan beban sesaat warga Palestina. Namun, penderitaan selanjutnya masih terus terjadi hingga waktu yang tidak diketahui kapan akan berakhir.

Tidak ada solusi hakiki dari sebuah penjajahan kecuali pengusiran penjajah dari tanah yang dijajahnya. Para penguasa negeri Muslim paling bertanggung jawab atas kewajiban menghentikan penderitaan saudara sesama Muslim, meskipun bukan warga negaranya. Membiarkan kaum Muslimin berada di bawah penjajahan merupakan sebuah tindakan pengkhianatan secara nyata.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا لَـكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُّنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُّنْكَ نَصِيرًا
"Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.'" (QS. An-Nisa' 4: Ayat 75)

Pengkhianatan penguasa Muslim harus dihentikan. Mereka harus diseru dan diingatkan akan kewajiban melindungi nyawa seorang Muslim. Mendiamkan penjajah Israel sama saja menghalalkan darah kaum Muslimin ditumpahkan dengan cara batil.

Dari al-Barra' bin Azib radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya membunuh seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Oleh karena itu, begitu pentingnya keberadaan jamaah dakwah ideologis di tengah umat untuk memperjuangkan tegaknya kembali kehidupan Islam yang akan membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Di mana kehidupan Islam tidak akan terwujud tanpa ada sebuah institusi negara yang berasaskan akidah Islam, yakni Khilafah yang merupakan kepemimpinan global bagi seluruh kaum Muslimin di dunia.

Anggota jamaah dakwah ideologis atau pengemban dakwah akan memahamkan umat agar segera terwujud kesadaran kaum Muslimin untuk bangkit dan bersatu dalam naungan Khilafah. Pengemban dakwah harus meyakinkan umat Islam bahwa penderitaan Palestina baru akan berakhir ketika telah ada negara adidaya Khilafah yang menjadi junnah/perisai.

Pengemban dakwah ideologis harus mampu memimpin umat dan dunia internasional dalam perjuangan penegakan Khilafah yang menjadi kewajiban setiap kaum Muslimin, bukan sekadar kewajiban bagi sebuah jamaah dakwah. Umat juga harus selalu diingatkan kembali tentang status Palestina sebagai tanah milik umat Islam.

Sungguh, penderitaan Palestina akan berakhir hanya ketika telah dikirim pasukan jihad yang akan mengusir penjajah Israel dari tanah Palestina, kemudian rakyat Palestina diurus dengan baik sesuai syariat Islam. Hingga saat ini, tidak ada satu negara pun yang mengirimkan pasukannya untuk memerangi Israel. Maka, harapan umat satu-satunya hanyalah pada Khilafah yang akan mengomando pasukan jihad ke Palestina.

Wallahu a'lam bishawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel