MAULID: MOMENTUM MENELADANI METODE PERJUANGAN NABI
Minggu, 30 Agustus 2026
Edit

Oleh: Syifa Salsabila N.
Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang
Bulan Rabiulawal menjadi salah satu bulan yang kehadirannya senantiasa dirindukan oleh umat Islam. Di bulan inilah sosok mulia, cahaya penerang, dan kekasih Allah SWT (Rasulullah Muhammad ﷺ) dilahirkan ke dunia.
Di setiap tahunnya, umat Islam dengan sukacita merayakan kelahirannya. Rangkaian seremoni tahunan seperti lantunan selawat, tabligh akbar, hingga pawai meriah digelar sebagai bentuk ungkapan cinta dan kerinduan kepada beliau.
Namun, hakikat bukti cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak cukup hanya berhenti pada ungkapan emosional atau seremoni tahunan semata. Cinta yang sejati menuntut ittiba', yakni bersedia meneladani dan mengikuti ajaran beliau dalam segala aspek kehidupan, bukan hanya meniru keteladanan akhlak perorangan. Kecintaan kepada Nabi ﷺ harus melahirkan keterikatan utuh pada risalah dan metode perjuangan yang beliau bawa.
Refleksi Perjuangan dan Pembangkangan Sistemik
Kita semestinya meneladani garis perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ dalam meruntuhkan tatanan sistem jahiliyah, sebuah pergerakan gigih untuk mengalihkan arah penghambaan manusia agar murni hanya ditujukan kepada Allah SWT semata.
Jika kita merefleksikan kondisi kehidupan hari ini, ternyata kita belum sepenuhnya meneladani Rasulullah ﷺ. Buktinya, umat masih terjebak dalam tatanan penghambaan kepada selain Allah SWT secara sistemik, yaitu melalui penerapan sistem demokrasi-kapitalisme dan liberalisme.
Dalam sistem sekuler tersebut, kedaulatan pembuat hukum berada di tangan manusia. Ketika manusia memegang wewenang mutlak dalam membuat aturan, tatanan kehidupan cenderung diatur berdasarkan kepentingan dan hawa nafsu. Padahal, Rasulullah ﷺ telah mencontohkan dalam tatanan daulah Madinah bahwa kedaulatan tertinggi dalam menetapkan hukum wajib bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Kembali pada Makna Ittiba' Sejati
Oleh karena itu, sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ, kita harus mengembalikan makna ittiba' sebagai keterikatan mutlak pada syariat dan metode perjuangan beliau, bukan sekadar ritual tahunan tanpa dampak strategis. Allah SWT berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali 'Imran: 31).
Wallahu a'lam bish-shawab.