GEN Z TERJEBAK: GAJI PAS-PASAN, GAYA HIDUP SULTAN, TUJUAN HIDUP? NOL!
Rabu, 26 Agustus 2026
Edit

Penulis: Erni Puji Astuti | Aktivis Dakwah dan Ibu Rumah Tangga
Gen Z hari ini sedang tidak baik-baik saja. Sebanyak 48 persen Gen Z dan 46 persen Milenial menyatakan belum merasa aman secara finansial (Asatunews, 19/2/2026, mengutip Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey). Biaya hidup melonjak, harga-harga barang kebutuhan terus melambung, sementara kenaikan gaji stagnan di tempat. Di saat yang sama, ketersediaan kesempatan kerja yang layak makin sempit. Kondisi ini menunjukkan betapa sulitnya mereka berjuang untuk memulai kehidupan mandiri yang ideal sesuai potensi yang dimiliki.
Di tengah himpitan ekonomi tersebut, generasi muda justru cenderung memprioritaskan pemenuhan kepuasan instan. Ironisnya, self-reward, healing, dan gaya hidup konsumtif bukan lagi dianggap sebagai kemewahan, melainkan telah bergeser menjadi "kebutuhan emosional" demi menjaga kesehatan mental.
Mulai dari berburu skincare hingga membeli jajanan yang sedang tular (viral), mereka sangat antusias untuk mengonsumsi sekaligus mempostingnya di media sosial sebagai bentuk pembuktian eksistensi. Perolehan penonton, kolom komentar, likes, hingga subscribers di platform digital seolah menjadi kepuasan tersendiri bagi Gen Z.
Banyak Gen Z yang terjebak di persimpangan: dituntut dewasa secara finansial, tetapi tidak ditopang oleh ekosistem pendukung yang memadai. Hasilnya, bekerja keras hanya sebatas untuk bertahan hidup; ada kelebihan dana sedikit digunakan untuk flexing; gajian habis sekadar untuk melupakan kepenatan; berfoya-foya; lalu pada akhirnya merenungkan pertanyaan eksistensial: "Sebenarnya hidup ini untuk apa?"
Siapa Dalang di Balik Krisis Generasi?
Persoalan ini bukan sebatas stigma bahwa Gen Z itu "boros" atau bermental "lemah". Ini adalah buah busuk dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme.
Gen Z seolah dijadikan ladang komersial utama tanpa batas. Pasar bebas di media sosial menawarkan beragam produk komersial. Bahkan, anak-anak usia sekolah dengan sangat mudah mengakses dan membeli barang tanpa ada batasan dari sistem. Lemahnya pengawasan ini terjadi karena negara tidak hadir mengover secara bijak melalui regulasi perdagangan publik.
Dalam sistem kapitalisme, negara berlepas tangan dari kewajiban langsung untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat. Negara hanya bertindak sebagai regulator, sementara penyediaan lapangan kerja diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar dan investor. Akibatnya, biaya hidup terus naik sementara gaji tidak pernah mengejar inflasi. Data BPS per Februari 2026 mencatat 7,24 juta orang masih menganggur (BPS, 5/5/2026), dan Gen Z menjadi korban utamanya.
Tekanan ekonomi tersebut kemudian dipelintir oleh gaya hidup sekuler-liberal. Ketika hidup terasa berat, "solusi" yang ditawarkan adalah self-reward dan healing. Media sosial dan korporasi terus mencekoki Gen Z dengan tren populer, budaya flexing, dan kecemasan tertinggal (fear of missing out/FOMO). Tujuannya satu: memicu perilaku belanja impulsif, tidak apa-apa secara finansial pas-pasan, yang penting secara tampilan terlihat kaya.
Namun, pukulan paling telak bukanlah pada dompet, melainkan pada ketahanan akidah. Karena sekularisme memisahkan agama dari kehidupan publik, Gen Z tumbuh tanpa kompas hidup. Mereka tidak diajarkan bahwa hidup ini memiliki tujuan yang mulia. Akhirnya, kebahagiaan diukur dari materi sesaat, dari perolehan likes, serta dari destinasi liburan, bukan dari ridha Allah SWT dan kemuliaan Islam.
Islam Memberikan Solusi Tuntas
Gen Z tidak sekadar membutuhkan seminar motivasi; Gen Z membutuhkan sistem kehidupan yang menyelamatkan.
Dalam sistem kepemimpinan Islam (Khilafah), negara bertindak sebagai raa'in, yakni pengurus dan pelindung urusan rakyat. Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar setiap warga negara. Caranya adalah dengan mengelola sumber daya alam milik umum secara mandiri, mengembalikan hasilnya untuk kemakmuran rakyat, serta membuka lapangan kerja yang layak khususnya bagi setiap laki-laki kepala keluarga.
Sebagaimana pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA yang menjamin kebutuhan pokok rakyat dari kas Baitul Mal, Gen Z tidak akan dibiarkan hidup dalam rasa takut dan ketidakpastian finansial.
Selain itu, Islam menutup rapat pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten yang merusak. Media massa tidak akan digunakan untuk membodohi atau memiskinkan rakyat secara konsumeristik, melainkan diarahkan penuh untuk fungsi edukasi, dakwah, dan peningkatan ketakwaan umat.
Hal yang paling utama, Islam membangun kembali paradigma hidup yang benar, bahwa manusia diciptakan bukan untuk mengejar kesenangan duniawi semata, melainkan untuk beribadah kepada Allah SWT:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Dengan akidah yang kokoh, Gen Z akan memiliki visi hidup yang jernih. Bukan sekadar menjadi pekerja dalam roda industri, melainkan pembangun peradaban Islam. Bukan mengejar validasi sesama manusia, melainkan mengejar ridha Sang Pencipta.
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan korban. Mari bersama-sama membangun kesadaran untuk meninggalkan sistem yang merusak ini dan mengembalikan kehidupan bermasyarakat pada penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam naungan Khilafah.
Wallahu a'lam bish-shawab.