GENERASI Z: DARI DEPRESI MENUJU RESISTENSI
Kamis, 16 Juli 2026
Edit

Penulis: Ummu Dayyin | Pemerhati Generasi
Berbagai survei dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok usia yang paling rentan mengalami kecemasan, stres, hingga berbagai gangguan kesehatan mental. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi gejala global. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, akses informasi yang nyaris tanpa batas, dan kehidupan yang tampak semakin modern, justru semakin banyak anak muda yang merasa kehilangan arah.
Mereka dibayangi oleh ketidakpastian masa depan, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, tingginya biaya hidup, tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga budaya media sosial yang mendorong setiap orang untuk selalu terlihat sempurna di etalase digital.
Banyak orang kemudian menyimpulkan bahwa akar persoalannya adalah lemahnya mental generasi muda. Ada pula yang menilai Gen Z terlalu sensitif, mudah mengeluh, dan tidak tahan menghadapi tantangan hidup (strawberry generation). Padahal, penilaian seperti ini hanya melihat gejala di hilir, bukan akar masalah di hulu. Tidak adil jika seluruh beban persoalan dibebankan kepada individu, sementara sistem kehidupan yang melingkupinya justru luput dari perhatian.
Dalam pandangan Islam, manusia hidup di dalam sebuah sistem yang sangat memengaruhi cara berpikir (aqliyah), cara bersikap (nafsiyah), dan cara menjalani kehidupan. Karena itu, ketika kecemasan menjadi fenomena massal yang dialami jutaan anak muda di berbagai negara dengan latar belakang yang berbeda, persoalannya tidak lagi bisa dipandang sebagai masalah pribadi semata. Ada krisis yang lebih besar yang sedang terjadi, yaitu krisis peradaban.
Tirani Sekularisme-Kapitalisme di Ruang Digital
Hari ini dunia berada dalam cengkeraman sistem sekuler-kapitalistik. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan (sekularisme) sekaligus menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan. Nilai seseorang ditentukan oleh pencapaian ekonomi, jabatan, popularitas, dan pengakuan publik. Sejak usia muda, seseorang didorong untuk terus bersaing, mengejar prestasi materi tanpa henti, dan membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, ketika gagal memenuhi standar tersebut, banyak anak muda merasa dirinya tidak berharga dan terasing.
Media sosial semakin memperparah keadaan. Platform digital memang memberikan banyak manfaat teknis, tetapi juga menghadirkan budaya perbandingan sosial (social comparison) yang tidak pernah berhenti. Seseorang melihat kesuksesan orang lain setiap hari, sementara kegagalan dan perjuangan jarang diperlihatkan. Kehidupan yang sebenarnya penuh dinamika berubah menjadi etalase pencitraan. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya merasa tertinggal (FOMO), rendah diri, dan kehilangan rasa syukur.
Di sisi lain, dunia kerja juga menawarkan ketidakpastian yang semakin besar. Persaingan semakin ketat, lapangan pekerjaan tidak selalu sebanding dengan jumlah lulusan, sementara perkembangan teknologi otomasi membuat banyak profesi berubah dengan sangat cepat. Semua ini menimbulkan kecemasan yang terus menghantui generasi muda. Mereka diminta mempersiapkan masa depan, tetapi hidup di tengah sistem ekonomi yang justru membuat masa depan terasa semakin tidak pasti.
Abainya Peran Negara dan Stigmatisasi Generasi
Ironisnya, di tengah berbagai tekanan tersebut, negara sering kali belum menjalankan perannya secara optimal dalam melindungi dan membina generasi. Pendidikan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar industri (kapitalisasi pendidikan) daripada membentuk kepribadian yang kuat. Kebijakan ekonomi lebih banyak berpihak pada kepentingan pertumbuhan korporasi daripada kesejahteraan rakyat secara merata. Ketika muncul berbagai persoalan di kalangan anak muda, solusi yang ditawarkan sering kali bersifat parsial dan berfokus pada penanganan dampak, bukan pada penyebab utamanya.
Lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit generasi muda yang justru mendapatkan stigma negatif. Mereka dicap sebagai generasi yang malas, manja, atau terlalu banyak menuntut. Padahal, mereka tumbuh dalam situasi yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka menghadapi tantangan global yang lebih kompleks, tekanan informasi yang jauh lebih besar, serta perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Alih-alih dirangkul dan dibina secara ideologis, mereka justru sering menjadi sasaran kritik tanpa diberikan arah jalan keluar yang jelas.
Namun, di balik kondisi yang penuh kegelisahan ini, tersimpan sebuah potensi politik yang besar. Kecemasan yang dialami Gen Z ternyata juga melahirkan sikap kritis. Mereka mulai mempertanyakan berbagai ketimpangan yang selama ini dianggap wajar oleh sistem lama. Mereka semakin peka terhadap ketidakadilan, kerusakan lingkungan, kesenjangan ekonomi, hingga krisis moral yang terjadi di tengah masyarakat. Mereka tidak lagi mudah menerima keadaan pasrah begitu saja.
Sikap kritis inilah yang dapat menjadi titik awal lahirnya resistensi terhadap sistem yang melahirkan berbagai krisis tersebut. Resistensi bukan sekadar penolakan emosional yang anarkistis, melainkan keberanian untuk mencari jalan hidup yang lebih benar, lebih adil, dan lebih manusiawi. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar peradaban sering kali lahir dari rahim generasi muda yang tidak puas terhadap status quo kondisi zamannya.
Islam dan Harmonisasi Tata Kelola Kepemudaan
Islam memberikan perspektif yang jauh lebih mendalam dalam memandang persoalan ini. Islam tidak hanya mengobati kecemasan individu melalui ritus ibadah dan penguatan spiritualitas personal, tetapi juga menawarkan sistem kehidupan makro yang mampu melenyapkan faktor-faktor penyebab lahirnya berbagai krisis tersebut. Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Syariat Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia sehingga kehidupan berjalan dalam keseimbangan fitrah.
Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh (kaffah), kemuliaan manusia tidak lagi diukur berdasarkan harta, popularitas, ataupun status sosial, melainkan berdasarkan tingkat ketakwaannya. Kehormatan seseorang tidak bergantung pada validasi manusia, tetapi pada penilaian Allah SWT semata. Cara pandang tauhid seperti ini melahirkan ketenangan batin (tuma'ninah) yang tidak mudah diguncang oleh fluktuasi perubahan dunia.
Sejarah peradaban Islam juga menunjukkan bagaimana lahirnya generasi muda yang luar biasa. Mereka memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang kokoh sekaligus menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan sains. Mereka bukan hanya ahli ibadah di mihrab, tetapi juga ilmuwan penemu, pemimpin negara, panglima perang, pendidik, dan pemikir yang memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia. Kekuatan mereka lahir dari akidah yang benar, sistem pendidikan yang membentuk karakter, dan negara yang menjalankan tanggung jawabnya dalam membina generasi.
Islam menempatkan negara sebagai raa'in (pengurus) sekaligus pelayan umat (khadimul ummah). Rasulullah ﷺ menegaskan fungsi agung ini dalam sabdanya:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Negara bertanggung jawab penuh menjamin kebutuhan dasar setiap rakyat, menyediakan akses pendidikan yang berkualitas secara gratis, menjaga keamanan, menegakkan keadilan hukum, serta menciptakan lingkungan sosial yang mendukung tumbuh suburnya generasi yang saleh, cerdas, dan berdaya. Dengan demikian, pemuda tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan.
Kesimpulan
Oleh karena itu, kebangkitan Gen Z tidak akan cukup jika hanya bersandar pada seminar motivasi, pelatihan produktivitas, atau kampanye kesehatan mental semata. Semua itu memang memberikan manfaat praktis di hilir, tetapi tidak akan menyelesaikan akar persoalan selama sistem kapitalisme yang melahirkan krisis di hulu tetap dipertahankan. Yang dibutuhkan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu kembali menjadikan Islam sebagai pedoman ideologis dalam mengatur seluruh aspek kehidupan.
Hari ini, Gen Z memiliki pilihan historis. Mereka dapat memilih untuk terus larut dalam kecemasan permanen yang diproduksi oleh sistem sekuler yang rusak, atau menjadikan kegelisahan itu sebagai energi perlawanan untuk bangkit. Bangkit dengan membangun kepribadian Islam, memperdeep pemahaman terhadap agamanya, peduli terhadap persoalan umat, serta mengambil peran terdepan dalam memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan melalui naungan Khilafah Rasyidah. Dari depresi menuju resistensi. Dari resistensi menuju kebangkitan yang hakiki.
Wallahu a'lam bish-shawab.