DI BALIK DEPRESI GEN Z, LAHIR RESISTENSI
Minggu, 12 Juli 2026
Edit

Penulis: Dina Aprillia
Generasi Z (Gen Z) hari ini menghadapi persoalan serius terkait kesehatan mental yang diakibatkan oleh berbagai tekanan sosial yang kompleks. Hasil survei terhadap 1.158 responden menunjukkan bahwa ketidakpastian akan karier, stabilitas ekonomi, dan kondisi global menjadi penyebab utama sebanyak 60% Gen Z merasa cemas terkait masa depan mereka. Kekhawatiran ini disusul oleh tekanan finansial sebesar 57%, ekspektasi sosial 42%, dan perasaan tidak berdaya akan situasi di luar kendali sebesar 36%.
Kondisi tersebut akhirnya berdampak pada berbagai bentuk gangguan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perubahan suasana hati (mood swings) yang paling sering dialami sebanyak 62%, gangguan tidur 50%, serta kecemasan berlebih dan sulitnya mengelola emosi masing-masing sebanyak 38%, sebagaimana dilansir oleh Data.goodstats.id (8/4/2026). Pengaruh yang terjadi menunjukkan bahwa gangguan mental bukan sekadar sekadar fenomena sesaat yang tiba-tiba tumbuh, melainkan telah berkembang menjadi realitas sistemis yang perlu dihadapi Gen Z dalam kehidupan.
Dilema Media Sosial dan Isolasi Dunia Nyata
Arus era digital yang menjadi salah satu pemicu hadirnya gangguan mental tidak bisa dielakkan begitu saja. Pasalnya, hari ini media sosial menjadi tempat paling dicari untuk mengembangkan potensi, berinteraksi secara sosial, hingga wahana membangun jati diri. Sayangnya, di saat yang sama, kondisi ini tidak serta-merta membawa dampak baik. Sebab, alih-alih memperkuat benteng diri, media sosial sering kali muncul menjadi bumerang yang menekan.
Platform digital memicu perasaan membandingkan hidup, mengukur standar kebahagiaan berdasarkan materi, ketakutan tertinggal tren (FOMO), hingga memunculkan tindak kekerasan siber (cyberbullying). Semua anomali ini menyusup dan menggerus kepercayaan serta semangat bagi penggunanya tanpa disadari.
Selain itu, waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk berselancar di jejaring sosial secara otomatis akan mengurangi kualitas hubungan di dunia nyata. Akibatnya, seseorang tetap akan merasa kesepian dan terisolasi dari lingkungannya. Hal ini bisa menyebabkan kemampuan beradaptasi dengan sesama menjadi sulit dan pada akhirnya membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan mental.
Lebih lanjut, kekhawatiran akan masa depan memang patut diperhatikan secara serius. Mengingat bagaimana kemudahan mengakses informasi saat ini dengan gampangnya mampu menampilkan berbagai berita yang berhubungan dengan kondisi dunia yang memprihatinkan. Konflik global, ketidakadilan sosial maupun politik, melonjaknya kebutuhan hidup di tengah persaingan, sulitnya mencari pekerjaan, hingga tekanan akademik, turut mengundang kecemasan mental Gen Z.
Kapitalisme Sekuler sebagai Akar Masalah
Pada akhirnya, fenomena ini terus menggejala di seluruh dunia. Dampak dari ketidakpastian akan masa depan dan banyaknya arus informasi yang terus diterima membuat mereka lebih bersikap skeptis. Namun, di saat yang sama, kondisi ini memunculkan gelombang resistensi terhadap akar masalah yang berlangsung, sehingga diduga kuat keadaan ini bisa menjadi titik balik bagi Gen Z. Akan tetapi, pertanyaannya adalah apakah benar media sosial menjadi penyebab utama dari berbagai persoalan yang ada? Jika demikian, mengapa di ruang digital yang sama bisa muncul kesadaran kritis dan gelombang resistensi atas masalah yang dihadapi?
Jika ditelusuri lebih jauh, akar persoalan ini tidak berhenti pada media sosial, melainkan ada pada penerapan sistem sekuler-kapitalis. Pasalnya, sekularisasi yang diaruskan saat ini menjauhkan urusan agama dari kehidupan. Aturan yang lahir dari ideologi ini sering kali condong pada kepentingan segelintir elite daripada kemaslahatan rakyat secara menyeluruh, sehingga berbagai kebijakan teknis tidak pernah menyelesaikan persoalan hingga ke akar.
Hal ini membuat negara gagal dalam mengurusi dan memenuhi urusan publik (ri'ayah). Maka kini mencari pekerjaan terasa sangat sulit, padahal harga kebutuhan pokok semakin tinggi, pendidikan berkualitas tidak mudah diraih semua orang, pelayanan kesehatan tidak merata, serta perputaran kekayaan hanya menumpuk pada segelintir orang.
Semua ini diperparah oleh kapitalisasi yang mengubah cara pandang bahwa sebuah keberhasilan hanya diukur dari banyaknya materi, suksesnya seseorang terlihat dari pencapaian duniawi yang diraih, serta terpenuhinya segala keinginan konsumtif. Dampaknya, tujuan hidup pemuda mudah bergeser mengikuti tren. Maka ketika menghadapi masalah, pegangan hidup menjadi lemah sehingga mereka lebih rentan mengalami depresi.
Sinergi Tiga Pilar dalam Tata Kelola Islam
Islam memandang pemuda adalah generasi pendongkrak perubahan. Dari pembinaan Islam, lahir karakter pemuda berjiwa kuat dengan kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang matang. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang cakap, kritis, dan tidak mudah goyah oleh keadaan. Karakter generasi emas seperti ini tentu tidak terbentuk dalam ruang hampa, melainkan ditopang oleh sinergi tiga pilar utama:
- Pendidikan Akidah di Ruang Domestik: Keluarga bertindak sebagai tempat pertama (madrasatul ula) anak tumbuh dalam didikan akidah Islami, sehingga memiliki imunitas mental yang kokoh.
- Kontrol Sosial Masyarakat: Lingkungan masyarakat yang aktif menjalankan aktivitas amar makruf nahi mungkar untuk menjaga suasana lingkungan agar tetap bersih dari kemaksiatan.
- Pengurusan Komprehensif oleh Negara: Negara Khilafah di bawah kepemimpinan seorang Khalifah berperan sebagai pelindung (junnah) dan pelayan masyarakat (khadimul ummah), yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup dasar secara adil dan merata.
Khilafah akan menyediakan lapangan pekerjaan secara merata, menjamin terpenuhinya keperluan sehari-hari dengan harga yang murah, serta menyediakan prasarana pendidikan dan kesehatan secara gratis, sehingga generasi muda tidak perlu merasa cemas dengan masa depan mereka.
Lebih lanjut, terkait perlindungan digital, negara akan menyaring secara ketat konten media sosial dan membatasi masuknya berbagai macam informasi, tontonan pornografi, maupun kekerasan yang mampu memicu gangguan mental. Dengan cara demikian, ketenangan, kesehatan, dan keselamatan hidup generasi akan terjamin sebab seluruh aturan yang ada bersumber dari hukum syariat, bukan dari produk hawa nafsu manusia yang lemah dan mudah berubah. Kebangkitan pemuda dari keterpurukan menuju perubahan gemilang hanya akan terwujud nyata jika aturan Islam ditegakkan secara kafah.
Wallahu a'lam bish-shawab.