NIKMAT ALLAH BUKAN HANYA WIFI LANCAR

NIKMAT ALLAH BUKAN HANYA WIFI LANCAR


Penulis: Lia_Aulia 3510

Pernah tidak sih, antum merasa hidup orang lain itu enak? Contohnya? Scroll medsos, traveling, sukses, shopping, nongkrong bareng teman, nonton film. Intinya bahagia. Tetapi, pernah tidak antum berhenti sebentar dan bilang, "Ya Allah, terima kasih atas hidup ana hari ini"?

Ini juga yang sering dilupakan. Kalau tiba-tiba hari ini Allah cabut satu nikmat saja dari hidup antum, seperti penglihatan, kesehatan, atau bahkan keluarga, apakah antum masih bisa tersenyum seperti sekarang? Itulah pentingnya bersyukur sebelum kehilangan.

Kali ini ana akan membahas tentang bersyukur. Bersyukur adalah salah satu ajaran utama dalam Islam untuk selalu mengakui, menghargai, dan menggunakan segala nikmat yang diberikan oleh Allah dengan cara yang baik dan sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Bersyukur dalam bahasa Arab disebut شكراً (syukr) yang berarti memberi pengakuan atas semua pemberian. Secara umum, bersyukur adalah bentuk penghargaan terhadap nikmat yang Allah berikan dengan memanfaatkan nikmat untuk kebaikan dan menggunakannya dalam rangka beribadah kepada Allah.

Yā aḥibbati fillāh, Allah banyak menyebut tentang pentingnya bersyukur dalam Al-Qur'an. Beberapa ayat yang berbicara tentang pentingnya bersyukur antara lain:

Surah Ibrahim ayat ke-7, yang artinya: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"

Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan hanya kewajiban, tetapi kunci bertambahnya nikmat. Semakin antum bersyukur, semakin Allah tambahkan kebaikan dalam hidup antum.

Yā aḥibbati fillāh, ada juga di surah an-Nahl yang artinya: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Ayat ini mengingatkan kita bahwa begitu banyak nikmat yang diberikan kepada kita hingga tidak bisa diingat kembali. Oleh karena itu, kita diajarkan untuk selalu bersyukur.

Yā aḥibbati fillāh, siapa yang di sini tahu seorang Nabi yang diberi ujian oleh Allah dalam waktu yang sangat lama? Kalau ada yang tahu, sebut di dalam hati saja ya.... Beliau adalah Nabi Ayyub as. Beliau adalah sosok yang sangat kaya, memiliki keluarga besar, ternak yang banyak, dan tubuh yang sehat. Namun, Allah mengujinya dengan ujian yang sangat berat.

Hartanya habis.
Anak-anaknya wafat.
Tubuhnya sakit bertahun-tahun.
Orang-orang menjauh. Bahkan hanya sedikit yang setia menemaninya.

Tetapi, satu hal yang tidak pernah hilang dari dirinya adalah rasa syukur dan keyakinan kepada Allah. Beliau tidak pernah menyalahkan Allah. Tidak pernah berkata, "Kenapa aku?" Yang keluar dari lisannya justru doa yang penuh adab:

"Rabbi, annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta arḥamur rāḥimīn."
"Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83)

Subhanallah. Beliau mengadu, tetapi tetap memuji. Beliau sakit, tetapi tetap bersyukur. Beliau diuji, tetapi tetap yakin Allah itu baik. Dan akhirnya, Allah mengangkat penyakitnya, mengembalikan kesehatannya, bahkan mengganti semuanya dengan yang lebih baik.

Ada banyak pelajaran buat kita para manusia:
  • Pertama, bersyukur bukan hanya saat senang, tetapi juga saat susah.
  • Kedua, mengadu kepada Allah itu boleh, tetapi tetap dengan adab dan pujian.
  • Ketiga, ujian bukan tanda Allah benci, bisa jadi tanda Allah ingin meninggikan derajat.
  • Keempat, orang yang sabar dan bersyukur tidak pernah benar-benar kalah.

Kita bisa bersyukur dengan tiga cara: dengan hati, lisan, dan perbuatan. Gimana tuh maksudnya? Sini ana jelasin. Pakai poin saja ya......
  • Pertama, bersyukur dengan hati, yaitu mengakui/meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
  • Kedua, bersyukur dengan lisan, dengan memperbanyak pujian kepada Allah.
  • Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yaitu menggunakan nikmat untuk hal yang bermanfaat.

Ada hadis pengingat kita untuk selalu bersyukur yang diriwayatkan Ahmad: "Sesungguhnya Allah itu suka kepada hamba-Nya yang ketika diberi nikmat ia bersyukur dan ketika diuji ia bersabar."

Orang bersyukur hidupnya akan tenang, tidak mudah mengeluh, dan selalu merasa cukup. Syukur membuat hati lapang dan menjauhkan kita dari sifat iri dan sombong. Sebaliknya, kurang bersyukur hanya akan membuat hati gelisah dan merasa kurang dengan nikmat apa pun.

Ya Allah, jadikan kami hamba yang pandai bersyukur, bukan pandai mengeluh.
Jika Engkau beri nikmat, dekatkan kami pada-Mu.
Jika Engkau beri ujian, kuatkan hati kami.
Tanamkan rasa cukup dalam jiwa kami, dan jangan Engkau cabut nikmat karena kurangnya syukur kami.

Semoga tulisan ini bukan hanya dibaca, tetapi juga dirasakan dan dijadikan pijakan untuk langkah yang lebih baik.

Terima kasih telah membaca sampai akhir.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel